Entry: re-Vision grunting, part II 1/16/2005



I've come to the conclusion that I'm not developing my revision because I'm rushing. Gotta make writing my revision as relaxing as writing a blog entry...

Kenapa Firefox? Kenapa bukan OpenOffice?
Tidak seharusnya perangkat lunak bebas/Open Source adalah semata mengenai harga. Argumen bahwa terdapat keuntungan ekonomis dalam hal beralih dari MS Office ke OpenOffice.org adalah valid dan riil. Dan bahwa keuntungan tersebut secara ekonomis lebih valid dan riil dibanding dengan keuntungan ekonomis yang didapat dengan beralih dari MSIE ke Firefox juga adalah nyata.

Namun perangkat lunak bebas/Open Source tidaklah semata mengenai kebebasan ekonomis. Ia juga adalah mengenai kebebasan sosio-kultural.

Perjuangan mengalihkan perhatian dari MS Office ke OpenOffice.org adalah sebuah perjuangan yang signifikan, patut, dan penting. Usaha-usaha yang telah dilakukan memang memiliki dampak riil perhatian terhadap OpenOffice.org sebagai alternatif MS Office. Namun gaungnya terasa terhenti, karena masyarakat tetap saja tidak terlalu bersemangat (eager) untuk beralih bila ia tidak menjadi trend. Jawaban akan trendiness ini dapat dijawab oleh Firefox

Firefox sebagai perangkat lunak nge-trend
Satu hal yang harus diakui bahwa World Wide Web sebagai sebuah media adalah sangat unik karena ia memungkinkan interaktivitas pada tingkat yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, baik dari sudut pandang volume peserta, kecepatan peralihan, dan kebebasan berekspresi. Kebebasan tersebut telah memunculkan keberadaan World Wide Web sebagai sebuah media pelarian kultural bagi mereka yang merasa tidak dapat mengekspresikan kepribadian dan pendapatnya melalui channel-channel konvensional.

Itulah sebab munculnya malesbanget.com. Itulah sebabnya popularitas Friendster. Itulah yang memunculkan ratusan blog-blog lokal, dengan sebagian besar dari mereka memiliki tagboard.

Firefox berpotensi menjadi sebuah trend karena ia sebagai web browser memiliki kaitan yang sangat erat dengan cyber culture dan berbagai hal yang menyebabkan ratusan anak muda membuang-buang waktu berjam-jam online tiap hari (bila tidak sedang bermain Gunbound atau Ragnarog, tentunya).

Gerakan FOSS di Indonesia
KPLI menjadi sistem taksi; keanggotaan bayar, pendaftaran untuk layanan bantuan, house calls, reward-system untuk hacker lokal. Semua lewat email, web-site, SMS server, RSS.

Bisa diperkenalkan kepada khalayak pada workshop sebagai pelatih. LinuxIndo bekerjasama dengan KPLI dan berbagai user-group yang telah ada di tingkat lokal/institusi dan memulai inisiatif untuk pembentukan jaringan support Free and Open Source Software.

Pendaftaran sebagai klien support lebih murah dari keanggotaan standar KPLI. Anggota penuh KPLI mendapat diskon layanan support, namun juga harus mengkontribusikan kode. Layanan support dikoordinasikan LinuxIndo melalui platform Email-Web-SMS.

LinuxIndo menghubungi KPLI dan berbagai LUG untuk kerjasama (dan dibayar) dalam workshop yang dilaksanakan.

Workshop
- Tidak semata skill building; juga TREND BUILDING
- Memanfaatkan kenyataan bahwa masyarakat menyukai trend teknologi, terutama bila dipersepsikan sebagai 'keren' secara mainstream.
- Itulah alasan utama Firefox dipilih sebagai produk yang dipasarkan.

Let's see if I can develop these some more...

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments